Jingga di Ujung Senja

 

 

“Sari, ajaklah Ayu kau ini jalan-jalan.” Ujar Babo Yus pada Sari, cucu kesayangannya.

(Ayu: kakak perempuan, bahasa Palembang. Babo: Kakek, bahasa Minang)

“Mumpung masih di Palembang, Nis. Pabilo baliak ka Bukittingi?” tanya Babo Yus. (Kapan balik ke Bukittinggi)

“Bisuak, Bo.” Jawab Nisrina. (Besok Bo)

“Maaf yo Nis, Babo indak bisa ikut kau kini. Beko lah Babo usahakan bisa hadir di pernikahanmu.” Ucap Babo Yus dengan nada menyesal. (Beko : nanti)

“Ndak ba’a, Bo. Jan dipaksa. Nisrina lah cukup sanang dapek restu dari Babo” ujar Nisrina. (Nggak apa-apa Bo. Jangan dipaksakan. Nisrina sudah cukup senang mendapat restu dari Babo)

 

Ya, kedatangan Nisrina ke Palembang kali ini untuk menemui dan meminta restu Adik lelaki Alm. Kakek Nisrina yang juga merupakan Datuk di keluarganya. Semenjak Anantha melamarnya di Jam Gadang 2 minggu lalu, yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan kedua keluarga untuk membahas tanggal pernikahan mereka, Amaknya selalu mengingatkan Nisrina untuk menemui Babo Yus di Palembang. Bahkan Amak juga memintanya mengajak Babo Yus serta ke Bukittinggi. Tapi, Babo Yus belum bisa meninggalkan usahanya di Palembang.

 ***

 

“Ayolah Yu Nis, alun pernah ka Musi kan?” ajak Sari, adik sepupu Nisrina, dengan logat Palembangnya yang kental. Nisrina hanya menjawab dengan gelengan kepala.

“Pernah dengar tentang ‘Venice Of The East’ ndak, Yu Nis?” tanya Sari, yang lagi-lagi kujawab dengan gelengan kepala. Sari tersenyum sambil menggelengkan kepalanya “Ckckck, berarti Ayu Nis memang harus ikut Sari ke Musi patang ini” ujarnya sungguh-sungguh. (patang: sore)

 

Setelah berpamitan dengan Babo dan Nenek, Nisrina dan Sari berangkat menuju sungai yang membelah Provinsi Sumatera Selatan itu. Sepanjang perjalanan, Sari bercerita tentang sungai yang memiliki lebar kurang lebih 300 m dan panjang 750 km itu. Karena lebarnya yang menyerupai lautan luas dan airnya yang tidak pernah kering, mayoritas orang Palembang menyebutnya Laut.

Sari mengajak Nisrina ke sebuah dermaga di Ampera untuk menaiki perahu tradisional yang biasa di sebut Ketek.

 

“Ini Jembatan Ampera yang terkenal itu ya, Sar?” tanya Nisrina, tangannya menunjuk ke Jembatan Megah berwarna merah bata itu.

“Iyo, Yu Nis. Jembatan ini di bangun pada tahun seribu sembilan ratus enam puluh dua, Yu. Panjangnyo kurang lebih seribu seratus tujuh puluh tujuh meter dan lebarnyo sekitar dua puluh dua meter, Yu. Jembatan Ampera ini merupakan ikon kota Palembang dan juga yang menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir.” Jelas Sari panjang lebar yang diikuti decak kagum Nisrina.

 

Sekitar 5 km dari Ampera, di tepian sungai Musi, terdapat objek wisata bernama Pulau Kemaro, yang di dalamnya terdapat bangunan berbentuk seperti Pagoda yang ada di China. Tak hanya pulau Kemaro, di tepian sungai Musi juga terdapat pelabuhan Boom Batu dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

 Layaknya seorang tour guide, Sari juga menjelaskan objek wisata lainnya yang terdapat di tepian sungai Musi. Mulai dari Benteng Koto Besak, Monpera, Masjid Agung, River Side, hingga Wisata Kuliner Tepian Sungai Musi, dan Pasar 16 Ilir yang merupakan Tanah Abangnya Palembang.

 

“Toko Babo ada di lantai dasarnya Pasar Anam Baleh Ilir, Yu Nis.” Ujar Sari lagi. Babo Yus memang mempunyai toko kasur lipat Palembang di Pasar 16 Ilir. “Belakangan ini memang lagi banyak pesanan, Yu, makanya Babo belum bisa ikut Yu Nis ke Padang” ujar Sari lagi.

“Siapin kameranya ya, Yu Nis” ujar Sari mengingatkan Nisrina.

“Siap-siap untuk apa, Sar?” tanya Nisrina heran dengan kata-kata Sari. Karena sejak tadi pun Nisrina tak melewatkan kesempatan dalam mengabadikan keindahan sungai Musi di hadapannya.

 

Sama halnya dengan Anantha, Nisrina juga menyukai fotografi, karena kesamaan hobi inilah yang mendekatkan mereka. “Ahh. A kabanyo uda di sinan?” lirih Nisrina dalam hati. (Apa kabarnya uda disana?)

 

“Lihat itu, Yu Nis” Sari menunjuk ke arah Jembatan Ampera.

 

Satu persatu lampu hias yang terdapat di badan jembatan bersinar terang, gemerlap cahayanya memancarkan keindahan, berpadu dengan langit senja yang memunculkan semburat jingganya. Sungguh cantik.

 

“Ini kah yang kamu bilang ‘Venice Of The East’ tadi, Sar?” tanya Nisrina tanpa mengalihkan pandangannya dari keindahan senja.

“Venesia dari Timur.” Ucap Sari. “Diatas perahu, menyusuri sungai Musi, melintas di bawah jembatan Ampera, dihiasi lampu-lampu yang berkilauan. Romantis kan, Yu Nis?” Sari menoleh pada kakak sepupunya yang sibuk mengabadikan keindahan tersebut.

“Nggak perlu jauh-jauh ke luar negeri, Yu Nis. Di Palembang juga ada tempat romantis seperti di Venesia” lanjut Sari bangga.

 

Nisrina masih saja berkutat dengan kamera DSLRnya. Seakan takut melewatkan momen indah di hadapannya.

 

Remember yesterday, walking hand in hand..
Love letters in the sand.. I remember you..

 

I Remember You – Skid Row terdengar di ponselnya. Tertulis nama UdaNantha di layar sentuh ponselnya itu.

 

“Assalamualaikum, Nis” sahut suara diseberang.

“Wa’alaikum salam, da” Jawab Nisrina.

“Sedang apa kamu, Nis? Uda ganggu kah?” tanya Anantha

“Indak… Indak ganggu, da. Nisrina sedang jalan-jalan ka sungai Musi jo Sari” jawab Nisrina. “Kapan-kapan Uda harus ka siko. Aah, menyesal Uda indak ikut Nis kemarin” ujar Nisrina antusias.

“A nan Uda sesalkan Nis?” tanya Anantha

“Langit jingga di ujung senja… Gemerlap Jembatan Ampera, Venice of The East, banyak Da..” jawab Nisrina antusias.

“Kamu bilang langit jingga, Nis?” tanya Anantha lagi.

“Iyo Da, langit di ateh sungai Musi kini berwarna Jingga..” jawab Nisrina lagi.

“Kamu tahu Nis, kini Uda juga sedang melihat ke langit yang berwarna jingga” ujar Anantha senang.

 

Dua insan yang terpisahkan jarak, memandang kagum pada karya agung ciptaan Tuhan. Langit yang memancarkan semburat jingga di ujung senja hari ini.

 

 

#15HariNgeblogFF2 day 3

*aaah… * *no comment*

 

Pagi Kuning Keemasan

 

Udara segar menerpa wajah Anantha saat membuka jendela kamarnya pagi ini. Senyum masih merekah di wajahnya, teringat akan kejadian kemarin saat dirinya nekat melamar Nisrina di Jam Gadang.

 

Angannya pun melayang ke masa 4 tahun yang lalu…

 

Sudah hampir 1 tahun Anantha menetap di Pulau Belitung, yang belakangan lebih di kenal dengan nama “Negeri Laskar Pelangi” ini. Setelah lulus Koas, Anantha mengikuti PTT (Pegawai Tidak Tetap), yang memang sudah menjadi kewajibannya setelah mendapatkan gelar “dr.” didepan namanya itu untuk mengabdikannya dirinya di pelosok Indonesia.

Anantha di tempatkan di Kabupaten Belitung bersama 4 orang lainnya. Shinta dan Melia adalah dokter gigi, sedangkan Anantha, Mitha dan Nisrina merupakan dokter umum. Mereka berlima di tempatkan di puskesmas yang berbeda, kecuali Nisrina dan Shinta yang di tempatkan di puskesmas yang sama.

 

12 bulan kebersamaan mereka di pulau yang luasnya 11.000kmmembuat mereka sudah seperti sahabat bahkan saudara. Sebelum pulang ke kota asal masing-masing, mereka berlibur bersama ke salah satu pulau yang ada di Provinsi Kep. Bangka-Belitung itu.

 

“Pulau apa itu namanya, Pak?” Tanya Melia pada seorang nelayan yang perahunya kami sewa dari Tanjung Binga tadi.

“Pulau Lengkuas, bu dokter” sahut bapak itu sopan.

“Seperti nama bumbu masakan ya, pak” celetuk Nisrina yang di ikuti canda tawa dari penumpang yang lainnya.

 

Perahu yang mereka naiki ini cukup unik bentuknya. Terdapat rangka di kedua sisinya yang membuatnya cukup stabil saat ada ombak besar, dan mampu memuat hingga 30 orang.

Dari kejauhan sudah terlihat jelas sebuah mercusuar berwarna putih yang berdiri dengan gagahnya di salah satu sudut pulau itu, diantara pepohonan dan batu-batuan besar. Di kaki mercusuar itu terhampar pasir putih nan elok, juga air laut yang biru jernih. Melihatnya dari kejauhan saja sudah membuat mereka semua terpana. Anantha tak henti-hentinya mengabadikan karya Tuhan terindah di hadapannya tersebut dengan Nikon DSLRnya.

 

Setelah menempuh perjalanan laut sekitar 30 menit, akhirnya perahu yang mereka tumpangi menepi di bibir pantai. Rombongan wisatawan lainnya kemudian berpencar ke beberapa penjuru pulau ini. Ada yang naik ke mercusuar, diving, snorkeling atau hanya sekedar mengabadikan gambar dengan kamera.

 

“Kalian yakin mau menginap di pulau ini?” Tanya Shinta pada Nisrina dan Mitha. Yang dijawab dengan anggukan dari keduanya.

“Tapi disini kan nggak ada penginapannya?” kali ini Melia yang bertanya.

“Kami sudah izin mau bermalam di rumah itu.” Mitha menunjuk ke arah rumah mungil tak jauh dari mercusuar berdiri.

“Pak Andi, operator mercusuar itu mengizinkan kami menginap di rumah itu. Tempat tinggal Pak Andi dan operator mercusuar lainnya.” Nisrina menjelaskan.

“Saya temani kalian menginap di sini.” Sahut Anantha tiba-tiba. Yang langsung dipandang heran oleh Mitha dan Nisrina.

“Titip Mitha dan Nisrina ya Bang, jaga baik-baik” pesan Melia dan Shinta pada Anantha.

 

Selain satu-satunya dokter lelaki yang PTT di Belitung, usia Anantha juga lebih tua 2 tahun dibanding yang lain. Sehingga Shinta, Nisrina, Melia dan Mitha sudah menganggap Anantha seperti Abang mereka sendiri.  

Shinta dan Melia yang tidak ada persiapan untuk menginap, terpaksa harus ikut rombongan pulang ke Pulau Belitung. Hanya Anantha, Nisrina dan Mitha yang tersisa di Pulau yang luasnya kurang dari satu hektar itu.

                                                                         ***

 

Sebelum fajar, Mitha mengajak Anantha dan Nisrina naik ke atas mercusuar tua yang merupakan mahkota pulau itu.

 

“Aku ingin melihat matahari terbit dari atas mercusuar” ujar Mitha.

 

Setelah meminta izin pada Pak Andi, mereka menaiki satu persatu anak tangga yang berjumlah 303 anak tangga yang terdapat di dalam bangunan yang berdiri sejak penjajahan belanda di tahun 1882 dan memiliki tinggi sekitar 80 meter dengan 19 lantai.

Perjuangan yang tidak mudah memang, apalagi untuk orang yang tidak biasa berolahraga. Mitha, yang pada awalnya sangat bersemangat akhirnya menyerah di lantai 12. Tak ingin di temani, Mitha memberi kode pada Nisrina serta Anantha untuk lekas naik ke atas sebelum Matahari terbit. Tanpa pikir panjang, Anatha menarik tangan Nisrina menaiki tangga menuju atap mercusuar.

Dengan napas tersengal-sengal akhirnya mereka sampai juga di atap mercusuar. Fajar menyingsing, bias mentari pagi yang menimbulkan warna kuning keemasan di langit memantul indah di beningnya hamparan air laut.

 

Nisrina memejamkan kedua matanya, meresapi keindahan pagi ini ke dalam hatinya.

Anantha yang selalu siap dengan kameranya, tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabadikan pemandangan indah di hadapannya.

 

Seorang bidadari yang hadir di pagi kuning keemasan.

 

 

#15HariNgeblogFF2 day 2…

 *i’m fallin in love, i think*

 

Menunggu Lampu Hijau

Jarum pendek yang terdapat di Jam Gadang menunjuk di angka XI sedangkan jarum panjangnya di angka III, “Jam sebelas lewat lima belas menit” ujar Nisrina pelan.

Matanya berkeliling melihat suasana sekitar Jam Gadang siang itu. Belum terlalu ramai, hanya beberapa orang yang berlalu-lalang hendak dan dari Pasar Ateh yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri tersebut. Nisrina tidak menemukan sosok yang di carinya, seseorang yang berjanji akan menemuinya di Jam Gadang siang ini.

Di pandanginya langit yang cerah, dengan warna birunya serta beberapa gumpalan awan yang menyerupai kapas sedang melayang dengan ringannya, seakan tak ada beban yang memberatinya. Sangat berbeda dengan dirinya yang kini sedang dirundung masalah,

“Pai ka ma?” (pergi kemana?) tanya Amak lagi setelah Nisrina menjelaskan perihal surat yang diterimanya beberapa hari sebelumnya.

“Ka London mak, di Inggris” jawab Nisrina antusias.

“Ayah indak satuju anak gadih Ayah satu-satunyo pai surang diri, jauah pulo” ujar Ayah lantang. (Ayah tidak setuju anak gadis ayah satu-satunya pergi seorang diri, jauh pula)

“Ayah indak larang kau sekolah tinggi, tapi jan ka ma itu? London? Sia nan jaga kau disinan?” Amak yang menjelaskan. (Ayah tidak larang kau sekolah tinggi, tapi jangan ke mana itu? London? Siapa yang jaga kau disana?)

“Nisrina bukan anak kecil lagi mak, lah duo puluah tujuah tahun umur Nisrina kini” ucap Nisrina sedih.

Angin dingin yang menerpa wajahnya, menyadarkan Nisrina dari lamunannya tentang perdebatannya dengan Amak dan Ayahnya semalam. Di tatapnya amplop coklat yang terdapat lambang mahkota di sudut kiri atasnya, dari Queen Mary, University of London. Surat panggilan untuk melakukan pendaftaran ulang yang akan di buka mulai tanggal 23 Juni 2012 – 22 September 2012. Hal yang sudah lama di nantikannya, mengambil gelar Magister kedokteran di bidang Endocrinology and Diabetes PgDip di kota London. Bertahun-tahun ia mencari-cari program beasiswa, berjuang untuk mendapatkannya. Dan kini, saat kesempatan emas itu sudah di tangan, restu orang tua belum ia dapatkan.

Sekali lagi ditatapnya Jam Gadang dihadapannya, jarum panjangnya sudah berada di angka IX. Sudah 30 menit ia berdiri mematung di sini. Orang yang ia tunggu belum juga datang. “Apa dia sibuk lagi?” ujar Nisrina dalam hati.

“Maaf uda talek datangnyo. Ada pasien emergency tadi” (maaf uda telat datangnya) ujar seorang laki-laki yang baru saja menghampirinya. Dengan peluh di wajahnya dan nafas yang memburu, seakan habis lari marathon. Bahkan dia lupa melepaskan jas putih kebanggaannya itu, dr. Anantha Yudha, nama yang tertulis di papan nama yang tersemat di jas putihnya.

“Ndak ba’a, da” Nisrina hanya bisa tersenyum. (nggak apa-apa,da)

“Lah lamo menunggu, Nis?” ujarnya setelah mampu mengatur nafasnya kembali normal. Yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Nisrina (sudah lama menunggu Nis?)

“Minum dulu da” ujar Nisrina yang kemudian tersenyum sambil menyerahkan sebotol air mineral pada lelaki di hadapannya.

Mereka bersandar pada pagar mungil yang mengelilingi Jam Gadang. Sejenak mereka saling terdiam, memandangi orang yang berlalu-lalang. Kemudian Nisrina menyerahkan amplop coklat yang sejak tadi dipegangnya pada Anantha, yang menerimanya dengan ekspresi terkejut. Keningnya berkerut, alis tebalnya saling bertaut saat membaca isi surat tersebut. Setelah selesai pun ekspresinya tidak berubah. Tidak ada kegembiraan yang di harapkan Nisrina yang keluar dari orang yang sangat di sayanginya itu.

“Jadi ini kabar gembira yang kamu bilang, Nis?” Tanya Anantha datar. “Uda senang akhirnya kamu bisa mengejar mimpi kamu, Nis” lanjutnya dengan senyum terpaksa, ada kegetiran dalam nada suaranya.

“Uda samo sajo jo Ayah dan Amak.” Ujar Nisrina yang kemudian pergi berlalu meninggalkan Anantha. (Uda sama saja dengan Ayah dan Amak)

Nisrina mengharapkan dukungan dari Anantha untuk menerima beasiswa tersebut. Tapi, sikap Anantha tak jauh berbeda dengan kedua orang tuanya semalam. Air matanya jatuh membentuk aliran sungai di pipinya. Nisrina terus berjalan tanpa menghiraukan padangan orang di sekitarnya, tak dihiraukan juga teriakan Anantha yang memanggil namanya.

“Nis, dengarkan Uda dulu” ujar Anantha setelah berhasil mengejar Nisrina dan menghentikannya.

Nisrina hanya terdiam, menunduk dan terisak. Kecewa, itu yang di rasakannya saat ini. Anantha menyentuh dagunya, kemudian mengangkat wajahnya, menghapus bulir air mata yang masih mengalir di pipinya. Kemudian, mereka duduk di salah satu bangku taman terdekat. Anantha memintanya bercerita tentang maksud ucapannya tadi, dan seberapa besar keinginannya untuk belajar disana.

Masih berlinang air mata, Nisrina menceritakan pertengkarannya semalam dengan kedua orang tuanya.

“Sekarang Uda tahukan kalau Nis sangat menginginkan beasiswa ini? Uda juga tahukan perjuangan Nis untuk mendapatkannya?” pertanyaan Nisrina hanya di jawab anggukan oleh Anantha. “Hanya 16 bulan da, tapi Amak jo Ayah tetap indak memberi lampu hijau” lanjut Nisrina sedih.

Anantha mendengarkan dengan seksama, dan sangat mengerti kekecewaan Nisrina. Setelah menarik napas dalam, Anantha memberanikan diri memegang kedua tangan Nisrina.

“Kita pai ka London, bia Uda yang minta izin ka Amak jo Ayah” ujar Anantha pada gadis di hadapannya. (Kita pergi ke London, biar Uda yang minta izin ke Amak dan Ayah)

“Apo da? Kita?” Nisrina seakan tak percaya dengan pendengarannya barusan.

“Kamu indak perlu menunggu lampu hijau lebih lama, Amak jo Ayah pasti akan memberi izin kalau kita sudah menikah” ujar Anantha meyakinkan. Nisrina memandang Anantha tak percaya.

“Kita menikah bulan depan, setelah itu kita terbang ke London dan mengurus kuliah kamu di sana.” Anantha tak melepaskan tatapannya pada gadis yang paling dicintainya itu.

Bulir air mata membasahi pipi Nisrina sekali lagi. Bukan karena sedih, tapi karena terharu. Kini, kedua orangtuanya tak akan menghalangi Nisrina untuk mengejar mimpinya, karena sudah ada Anantha yang akan menjaganya kelak.

*tulisan ini di buat dalam rangka memperingati kembalinya #15HariNgeblogFF2 yeaay…

Dalam Rinai Hujan

Dalam rinai hujan..

Terkenangku akan dirimu..

Dalam rinai hujan..

Terbayangku akan senyum manismu..

Dalam rinai hujan..

Terbersitku akan rindu ku padamu..

Rinai hujan membawaku kembali pada kenangan kita…

Saat kita bermain hujan sepulang sekolah dulu..

Ketika kau tersenyum melihatku menari dalam hujan..

Yaa.. rinai hujan membuatku rindu akan masa itu..

Rindu akan masa lalu… Bersamamu…

Akankah kau merasa yang sama disana??

Picture taken from -> here

Karena Satu Hal…

Happy birthday, sayang…” ujar Bunda sambil mengecup pipi kanan, kiri juga keningku..

“Makasii, Bunda..” pelukku.

“Anak Bunda sudah besar yaa.. Sudah dua pulu lima tahun, sekarang” ujar Bunda sambil membelai rambutku yang acak-acakan baru bangun tidur.

“Semoga sehat terus, sukses karirnya dan cepet dapet jodoh. Bunda udah nggak sabar nih mau gendong cucu dari kamu” ujar Bunda sambil menatapku kemudian tersenyum. Dan aku hanya meng-Amini ucapan Bunda.

Ucapan Bunda di hari ulang tahunku beberapa hari yang lalu masih terus terngiang di telingaku. Seakan menjadi cambuk bagiku. Bagaimana tidak? Diusiaku yang sudah seperempat abad ini, aku masih belum memiliki pasangan hidup. Sedangkan beberapa teman sebayaku sudah ada yang menggendong anak mereka, minimal mereka semua sudah memiliki pasangan hidup yang abadi. Kalau dipikir sih, wajar saja Bunda berharap seperti itu padaku, karena anak gadisnya sampai sekarang belum mengenalkan siapa calon pendampingnya kelak. Mungkin juga Bunda sudah bosan bertanya padaku tentang pasangan hidup yang selalu ku jawab dengan santainya “Tenang Bunda, nanti juga akan datang waktunya Tami kenalin ke Bunda

Teringat lagi olehku usia Bunda yang sudah setengah abad dan tidak bisa di bilang muda lagi. Semakin hari semakin ringkih dengan penyakitnya. Yaa, belakangan ini penyakit Bunda sering kumat.

Sebenarnya sih, sudah ada beberapa pria yang menyatakan cintanya padaku. Ada yang memang ku tolak terang-terangan, ada juga yang mundur secara halus setelah mengetahui syarat-syarat yang kuajukan untuk menjadi pasangan hidupku. Yaa, aku punya kriteria khusus untuk jadi pasanganku kelak. Beberapa dari mereka bilang kriteriaku berat dan ketinggian. Tapi itu memang ku sengaja. Karena satu hal…

“Hey Tam, bengong aja” seru Nia teman kantorku, yang hanya ku tanggapi dengan senyuman.

“Lagi ada masalah yaa??” tanya Nia agak menyelidik.

“Heh, nggak kok. Nggak papa” ujarku mencoba biasa.

“Yakin??” tanya Nia lagi seakan tak percaya dengan jawabanku barusan. Dan aku hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Ooh, gue tau.. pasti nyokap lagi yaa?? Masih nanyain terus emangnya nyokap lu??” tebak Nia yang memang sudah tahu masalahku ini.

“Yaah.. ketebak deh.. hehe” seruku pasrah.

“Kan dari dulu masalah lu itu doang Tam. Hehe ” Nia meledekku.

“Yaa nggak gitu juga kali Ni. Nyokap sih udah nggak sering-sering nanyain, cuma belakangan ini suka nyindir-nyindir gitu deh. Banding-bandingin gue sama anak temennya nyokap atau tetangga gue yang udah pada nikah. Apalagi nih, sebentar lagi kakak sepupu gue mau merit. Lengkaplah sudah…” lanjutku.

“Hmm.. kayaknya urgent banget nih masalah lu.“ ujar Nia belagak mikir. “Apa perlu gue bantuin cari cowok??” lanjut Nia menawarkan bantuan. Kemudian Nia bercerita tentang rencananya juga memperlihatkan beberapa foto teman-temannya yang ada di handphonenya.

 

“Haha.. boleh juga sih ide lu, tapi gue nggak janji ya, Ni” ujarku dengan nada bercanda.

“Yeeh, nih bocah yak. Jadi nggak niih dicariin??” ujar Nia, keluar deh logat aslinya.

“Hmm.. gue pikirin dulu deh yaa” ujarku, kemudian beranjak pergi dari hadapan Nia.

 

***

“Sejak pertama kita ketemu lagi, sebenernya gue udah suka sama lu Tam. Gue sayang sama lu, tapi gue juga ga mau ngancurin persahabatan yang baru kebentuk lagi. Sorry ya Tam, kita sahabatan aja. Gpp kan tam??”  

“Gue juga suka sama lu Dho, gue ngerti kok maksud lu. Gue juga ga mau kehilangan sahabat terbaik gue lagi”

“Hmm… tapi Tam seandainya nanti gue belok lagi ke lu, boleh ga?”

“Selama gue blom punya pacar siih gada yang larang yaa.. :D”

Sms dari Ridho juga balasanku untuknya masih tersimpan manis di file pesan dalam handphoneku. Beberapa kali kubuka dan kubaca lagi. Aah Ridho.. Teman masa kecilku, yang dipertemukan lagi beberapa tahun belakangan ini. Seseorang yang selama ini aku harapkan. Seseorang yang selalu aku tunggu kedatangannya. “Kamu sekarang dimana Dho?? Apa kamu tau aku masih mengharapkan kamu, Dho” bathinku. Kupeluk handphoneku yang kini di layarnya terpasang wajah Ridho. Wajah yang kerap kali hadir di mimpiku. Tanpa terasa airmata ini mengalir perlahan.. Membasuh hatiku yang hampa.. Hampa tanpa dirimu disisiku, Dho..

***

“Gimana, Tam??” ujar Nia kemudian. Sudah seminggu ini Nia berusaha mempertemukan aku dengan beberapa temannya.

“Apanya?” tanyaku datar.

“Temen-temen gue?” tanya Nia lagi.

“Ohh, baik-baik kok orangnya” jawabku, masih dengan nada datar.

“Terus?? Ada yang lu taksir nggak?” selidik Nia.

“Hmm.. Gimana ya Ni, blom ada yang sreg sama gue” ujarku sambil menatap Nia.

“Yahh.. Padahal udah semuanya tuh gue keluarin stok temen-temen cowok yang masih jomblo. Masa satu juga nggak ada yang nyangkut siih Tam?” lanjut Nia heran.

“Hehe.. Sorry yaa..” ujarku segan.

“Tapi gue makasiih bangeet sama lu Ni.. Makasii banget” lanjutku cepat-cepat karena melihat Nia cemberut mendengar ucapanku sebelumnya.

“Lu masih normal kan, Tam??” tangan Nia mencoba menyentuh dahiku untuk mengukur suhu tubuhku “Nggak panas kok.” Lanjut Nia lagi.

“Eeh eeh, apaa apaan niih?” tanyaku pura-pura marah.

“Haha.. Gue kira, lu les biola neek. Abis lu nggak mau sih sama lekong yang eike tawarin..” ujar Nia dengan gaya ngondeknya yang membuatku tertawa.

“Hahah.. Parah lu.. Masih normal kok gue.. Tenang ajaa” ujarku masih tertawa.

“Abisnya, lu gue kasih cowok banyak nggak ada yang dipilih satu juga.. Curiga kan, gue” ujar Nia setelah puas tertawa.

“Belom sreg aja, Ni..” ujarku sewajarnya.

“Emangnya yang lu bisa sregnya sama yang gimana sih, Tam??” tanya Nia.

“Yaah. Nggak tau juga sih.. Yang pasti bisa bikin gue nyaman, lah..” jawabku.

“Hmm.. Okelah. Urusan hati emang nggak bisa ditebak. Tapi, gue selalu berharap someday lu ketemu orang yang bisa bahagiain lu. Lu harus yakin itu Tam.” ujar Nia tulus.

“Owhh.. Thank you, dear…” ujarku kemudian memeluk Nia.

Nia benar, suatu hari pasti akan datang orang yang tepat. Orang yang memang berjodoh denganku..

“Allah udah nyiapin jodoh/pasangan yang terbaik dari yang paling baik untuk kita. Tinggal kita aja yang sabar dan ikhtiar. Pasti akan datang saatnya kita ketemu dengan pilihan Allah itu” ujarku yakin.

Dan aku masih berharap kamu Dho, yaa aku harap kamu lah pilihan Allah untuk aku, Dho.

 

 *******************************************************************************************************************

Tulisan ini ditulis untuk Project NBC Padang dan terpilih dalam buku 1 “Menunggu”

 

 

 nb: tulisan ini inspired by Ridho (bukan nama sebenarnya), I’ll wait you Dho… Aku masih menunggu kamu ‘belok’ lagi ke Aku… (^_^)

Kamu, Masa Lalu Ku

Semua terjadi saat aku SMP.

Sebelumnya perkenalkan namaku Adisty Utami Hapsari, anak pertama dari 3 bersaudara. Saat itu aku bersekolah di salah satu SMP favorit di Jakarta Selatan yang letaknya agak jauh dari rumahku yang terletak di pinggiran Jakarta Selatan dan hampir berbatasan dengan Depok. Itu menyebabkan aku harus mengikuti layanan antar-jemput sekolah (permintaan Bunda).

Yang ingin aku ceritakan berawal saat aku masih kelas 1 SMP, saat itu aku memang dekat dengan seorang anak laki-laki teman sekelasku, namanya Rio. Kami berteman baik layaknya sahabat dekat. Yaa entah mengapa sejak kecil aku lebih suka berteman dengan anak laki-laki dibanding anak perempuan, walaupun teman perempuanku tidak sedikit jumlahnya. Tapi berteman dengan laki-laki itu menyenangkan, mereka lebih apa adanya dan tidak dibuat-buat. Memang benar pendapat tentang laki-laki yang menggunakan 90% logika dan hanya 10% perasaan, berbeda dengan perempuan yang menggunakan 90% perasaan dan hanya 10% logika.

Saat itu kami begitu dekat, hingga suatu hari…

”Rio, aku pinjam buku catatan Bahasa Indonesianya yaa..” ujarku pada Rio Sahabatku itu

“Memangnya tadi kamu nggak nyatet yaa??” tanya Rio padaku

”Hehehe… tulisannya nggak keliatan Yo.. kan aku duduk di belakang…” ujarku sambil garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal… Yaa dikelasku memang ada pergeseran tempat duduk setiap 1 minggu. Yang bertujuan agar setiap anak  bisa merasakan duduk di bagian manapun.

”Haa.. dasar disty.. mata kamu dah minus yaaa?? Udah di periksa belum ke dokter mata??” tanya Rio lagi.

”Belum sempat. Lagian tadi yang duduk di depan aku tinggi-tinggi semua Yo..” jawabku

”Ahahhaha… Yaudah ini aku pinjemin.. Tapi jangan lama-lama yaa dis” ujarnya seraya memberikan buku catatannya padaku.

”Siap boss… Paling lusa aku balikinnya..” ujarku lagi

”Yeee.. Itu mah pas ada pelajarannya dong..” kata Rio ”Yaudah nggak papa, daripada nggak di balikin.. hehhe.. Jaga baik-baik yaa” ujarnya lagi.

”Hiya hiya..” jawabku asal sembari memasukkan buku catatan Rio ke dalam tasku kemudian bergegas keluar kelas menuju kantin…

Malam harinya, di kamarku usai menyalin catatan Rio, entah kenapa saat itu perasaanku tak menentu… Senang tapi juga gelisah.. Dan tiba-tiba terpikir untuk melakukannya…

Tanpa berpikir panjang tentang akibat dari tindakanku nanti aku menulisnya di halaman tengah buku catatan Rio. Ungkapan perasaanku selama ini. Yaa, baru ku sadari ternyata selama ini aku menyukainya. Sifatnya yang humoris, baik hati dan pintar yang membuatku jatuh hati padanya.

****

”Rio.. makasi yaa buku catatannya..” ujarku saat paginya bertemu Rio seraya mengembalikan buku catatan yang aku pinjam kemarin lusa.

”Yaa sama-sama Dis” ujar Rio sambil tersenyum padaku.

Aaahh Rio… senyummu itu membuatku semakin menyukaimu.

Tapi ternyata itu terakhir kalinya aku bisa bercakap-cakap dengannya. Karena esoknya Rio seperti menghindar dariku. Setiap aku menghampirinya, dia malah pergi jauh dariku. Seakan-akan aku ini menderita penyakit menular yang berbahaya. Rio tak pernah lagi menyapaku, seperti kebiasaannya dulu. Kami tak pernah saling menyapa. Yaa, kami tak sedekat dulu lagi.

 Pernah aku berusaha mendekati Rio untuk menanyakan alasan dia menjauhiku, tapi tak pernah berhasil. Selalu nihil. Sempat aku berfikir, apa karena surat yang aku tulis di buku catatan Bahasa Indonesianya waktu itu?? Apa dia tak suka padaku?? Tapi mengapa mesti menghindariku?? Terlalu banyak pertanyaan berkecamuk di benakku atas sikap Rio padaku itu. Dan aku tak pernah tahu jawabannya. Aku menyesali perbuatanku itu yang mengakibatkan aku harus kehilangan sahabat terbaikku.

Dan perasaan ini semakin menyiksaku dan terus menyiksaku. Satu tahun berlalu dan kami tidak sekelas lagi saat kelas dua. Sikapnya tidak berubah, masih menghindar dariku, hingga aku dengar ia sedang dekat dengan teman perempuan di kelasnya. Aku tahu berita ini dari Sita yang satu mobil jemputan denganku dan kelasnya bersebelahan dengan kelasnya Rio. Sebenarnya segala cara sudah aku lakukan untuk melupakan semua kejadian itu, mengenyahkan perasaan ku pada Rio dan mengobati rasa kecewaku karena sikap Rio itu. Lebih tepatnya untuk mengalihkan perhatianku akan rasa sakit itu. Tapi nihil.

Hingga suatu hari, Sita meminta bantuanku untuk mencari tahu nama siswa dari sekolah lain yang sering kami lihat di jalur perjalanan ke sekolah setiap pagi. Anak laki-laki itu selalu berdiri di tempat dan jam yang sama saat kami selalu melewati jalur itu. Wajahnya lumayan, anak-anak satu jemputan sih bilang kalau wajahnya mirip sama Chow Yun Fat, itu loh aktor mandarin. Dan kalau tidak salah disampingnya selalu ada Kak Rino yang mengenakan seragam SMA. Kak Rino memang alumni SMP ku yang juga pengajar di ekskul PASKIBRA di sekolahku.

”Ayolah Dis, lu kenal sama kak Rino kan??” tanya Sita setelah turun dari mobil jemputan.

”Yaa kenal lah. Secara Kak Rino kan ngelatih Paskibra. Terus gue mesti gimana dah??” jawab ku seraya bertanya pada Sita.

”Tolong tanyain Kak Rino ya Dis..” jawab Sita seraya memohon

”Tanyain tentang anak SMP itu?? Yang mirip Chow Yun Fat itu??” tebakku yang mulai mengerti arah pembicaraan Sita.

”Hehhe.. hiya Dis.. tolong yaa.. mau kan maukan??” ujar Sita sambil mengedip-ngedipkan matanya padaku.

”Iya iya entar gue tanyain kalo ketemu Kak Rino, soalnya seinget gue hari ini nggak ada jadwal latihan Paskibra” ujarku sambil menaiki tangga menuju kelas.

”Ok ok.. gue tunggu kabar baik dari lo yaaa.. heheh daah Disty…” ujar Sita sambil melambaikan tangan. Kami berpisah menuju kelas masing-masing.

 ***

Esoknya…

”Kak,, ayo dong kasih tau namanya siapa??” tanyaku saat istirahat dari Latihan Paskibra.

”Yang mana Dis?? Di samping aku kan banyak anak SMPnya. Yang kamu maksud yang mana Dis??” tanya Kak Rino lagi.

”Hehehe.. iya yaa… Disty Lupa..” ujarku sambil garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal itu.

”Yee dia malah ketawa… bukannya di jawab” Kak Rino meledekku

”Itu loh kak yang mukanya agak oriental, yang putih, trus rambutnya berdiri gitu” ujarku menyebutkan ciri-cirinya yang aku ingat sekilas. ”Kalo nggak salah tadi pagi berdirinya di sebelah kakak dee” lanjutku lagi.

”Oo.. kalo yang itu namanya Ferdy Dis.. rumahnya juga nggak jauh dari rumah kakak…” Jawab kak Rino sambil tersenyum..

”Hoo namanya Ferdy toh. Sekolahnya dimana kak?? Dah punya pacar belum??” Tanyaku lagi.

”Hayoo.. kamu suka yaa sama Ferdy?? Nanyanya ampe segitunya… Entar aku salamin deeh” lanjut kak Rino sambil meledekku..

”Haah.. kakak.. yang suka itu Sita bukan Disty. Lagian Disty kan cuma bantuin Sita nyari tahu tentang Ferdy.” jelasku lagi.

”Sita apa Sita niih??” ledek kak Rino lagi

”Yaudah kalo kakak nggak percaya… ” ujarku seraya berdiri meninggalkan kak Rino untuk melanjutkan latihan lagi.

”Yee gitu aja ngambek. Iya percaya, Sita yang suka. Bukan kamu. Hahhah” ujar kak Rino. ”Oiya dia seangkatan sama kamu kok, sekolahnya di SMP 2 dan dia belum punya pacar” lanjut kak Rino seraya berdiri dan memulai lagi latihan hari ini.

Dan itulah awal perkenalanku dengan Ferdy, kenapa aku?? Itu dikarenakan Sita tidak pernah berani untuk menghubungi Ferdy lebih dulu. Kak Rino memberiku nomor telepon Ferdy dan aku lah yang memulai perkenalan itu. Setiap mobil jemputanku melewati tempat itu, kami saling melambaikan tangan dan kami semakin akrab…  Dan hal ini membuat aku sedikit melupakan sikap Rio yang acuh tak acuh terhadapku… Ferdy anak yang baik, selalu mau mengangkat teleponku hanya untuk mendengarkan curhatan aku ataupun bercandaanku yang kadang-kadang tak kenal waktu…

                                                                              ***

Dua tahun berlalu. Dan kami dipertemukan lagi di kelas tiga. Yaa aku sekelas lagi dengan Rio dan Suci –yang aku dengar pernah dekat dengan Rio saat kelas dua-. Dan Rio masih tak mau menyapaku juga setelah dua tahun.

Ohh GOD… segitu fatalnya kah kesalahan ku??? 

Apa rasanya coba dalam sekelas yang hanya berisi 40 orang yang setiap hari ketemu selama kurang lebih 6 jam tapi nggak tegur2an… bahkan seakan nggak kenal???

Sumpah ya tersiksa bangeeet tauu….

Sepertinya segala cara udah aku coba, tapi masih seperti dulu.. NIHIL… Akhirnya aku bener-bener pasrah… dan mulai bersikap ”I don’t care!!!”

Sikap cuek ku mungkin juga karena dipicu oleh rasa cemburu..

*whattt?? Cemburu??*

Yaa cemburu karena kedekatan Rio dan Suci. Cemburu karena aku nggak bisa sedekat Suci dengan Rio. Cemburu karena Rio seakan-akan menganggap aku nggak ada, padahal jelas-jelas aku ada di dekatnya.

Cemburu karena akhirnya aku menyadari bahwa aku masih sayang Rio. Aku masih belum bisa terima dan ikhlas karena sikap Rio dulu.

Ahhhh… MUNAFIK…

Aku mencoba untuk melupakan semua itu. Tapi, aaahh… Aku bingung.. Dan akhirnya aku memutuskan untuk membuang semua perasaanku itu. Anggap saja aku nggak pernah kenal Rio. Yaa, seperti dia yang nggak pernah anggap aku ada…

”Dis… ” sebuah suara hangat menyadarkan aku dari lamunan.

Ku tengok ke arah suara berasal, Ternyata Miko sudah ada di sampingku tanpa aku tahu kapan munculnya ini makhluk. Miko salah satu teman sekelasku juga, yang beberapa hari ini memang sedang dekat denganku..

”Ngapain lu bengong disini?? ” ujarnya lagi setelah melihat reaksiku yang datar

”Hmmm.. nggak papa kok.. Cuma lagi iseng aja” jawabku asal

”Waah ati-ati Dis.. Ayam tetangga gue mati loh karena bengong” ujarnya meledekku

”Waduuh parahh.. masa gue disamain sama ayam tetangga lu siih??” ujar ku rada ngambek

”Hihihi sorry deeh.. Abis lu pake acara bengong segala siih” ujarnya ”Lagi ada masalah yaa??” lanjutnya lagi

”Heheh.. nggak kok… nggak papa” jawabku sekenanya..

”Hiyaa.. hiyaa gue nggak maksa lu untuk cerita juga siih. Cuma jangan keseringan bengong yaa neng, entar cantiknya ilang loh…” ujarnya agak gombal yang membuat aku tersenyum dan bahkan agak tertawa melihat sikapnya itu… ”Nah gitu dong.. senyum.. kan manis tuh..” ujarnya lagi sambil senyum-senyum sendiri

”Hii… abis kesambet apa, Ko?? Mendadak gombal gini lu?? Lu lagi sakit yaa??” tanyaku berentet sembari mencoba menyentuh keningnya hanya untuk memastikan suhu tubuhnya normal.. Miko mencoba mengelak. Tapi tanganku sudah menyentuhnya… ”Anget siih Ko… belom minum obat lu yaaa??” candaku lagi..

”Aaahh lu maah.. ” gantian dia yang ngambek..

”Heheheh becanda, Ko… gitu aja ngambek siiih” ujarku seraya meminta maaf…

”Hiyaa tauu” jawabnya dengan mulut yang di manyunin, kemudian tersenyum karena melihatku yang memasang wajah menyesal. Lalu berdiri dan mengacak-acak rambutku kemudian beranjak pergi…

”Arghhh Mikooo…” geram ku sambil merapihkan rambutku..

                                                      ****

”Dis, nanti pulang sekolah kemana?” tanya Miko saat jam istirahat

”Hmm.. paling bimbel aja.. kenapa Ko??” jawab ku sambil bertanya balik

”Hoo, bimbelnya sampe jam berapa??” tanya Miko lagi

”Ampe jam limaan sii.. kenapa emangnya??” jawabku lagi

”Hee.. nggak… kalo besok bimbel juga nggak Dis??” tanya Miko sambil senyam-senyum sendirian

”Eh eh, ini ada apa yah???” aku balik bertanya

”Hmm.. kalo besok lu nggak ada acara, gue mau ngajak lu nonton bioskop..” ujarnya tertahan ”katanya lagi ada film yang bagus” lanjutnya lagi…

”Hoo gitu yaa.. besok sih nggak ada bimbel.. kosong.. tapi…” jawabku agak gantung

”Tapi kenapa Dis??” tanya Miko

”Tapi, gue nggak tau yaa di ijinin apa nggak sama Bunda.. heheh” jawab ku asal

”Yaa, apa perlu gue yang ijinin ke Bunda lu ??” Miko memberanikan diri

”Hehehe.. Nggak usah Ko.. nanti gue aja yang ijin ke Bunda.. ” jawabku..

Sesampainya di rumah..

”Bunda, besok Disty pulang agak telat boleh??” tanyaku pada Bunda saat makan malam

”Loh.. ada apa memangnya Dis??” tanya Bunda

”Hmm…” diamku ”temen-temen Disty ngajakin nonton di bioskop Bun.. boleh nggak??” ujar ku agak memohon

”Memangnya kamu nggak ada bimbel besok??” tanya Bunda lagi

”Kan bimbelnya cuma hari rabu dan sabtu doang, Bunda…” jawabku lagi

”Kamu mau nonton dimana?? Sama siapa aja??” kali ini pertanyaan Bunda lebih mendetail

”Sama beberapa temen kelas Bun” jawabku sekenanya..

”Bunda sih nggak mau ngelarang kamu,, tapi bisa nggak sebelum jam 6 sudah sampe di rumah??” ujar Bunda

”Jam 6 Bun??” tanya ku memastikan

”Iya.. sebelum jam 6.. bisa?” tanya Bunda lagi

”Hmm.. Disty usahain Bun..” jawabku meyakinkan Bunda..

”Baiklah, Bunda ijinin.. Asal Sebelum jam 6 sudah sampe rumah yaa” ujar Bunda

”Iya Bunda.. terimakasih yaaa” ujar ku sambil memeluk Bunda…

Malam itu aku senyum-senyum sendiri di kamar sambil membayangkan pergi nonton bareng Miko… Seseorang yang belakangan ini mampu mengalihkan perhatianku dari Rio…

                                                                              ***

Hari berlalu… dan aku memang semakin dekat dengan Miko… Sangking dekatnya banyak yang bilang kalau kami pacaran. Padahal kami hanya teman –mungkin berharap seperti itu- hingga suatu hari…

”Assalamualaikum” jawab suara wanita di seberang yang aku yakin itu suara Ibunya Miko.. Karena yang aku tahu, Miko hanya memiliki adik perempuan satu-satunya yang sangat dia sayang dan itu pun masih kecil.

”Wa’alaikum salam… Mikonya ada Tante??” jawabku dan langsung mencari Miko

”Ini dari siapa ya??” tanya ibunya Miko

”Saya Tami, teman sekelasnya Miko Tante” jawabku sopan

”Oh.. Mikonya belum pulang tuh Tam, ada pesan??” tanya ibunya Miko lagi

”Hmm.. Nggak usah deh Tante” ujar ku lagi

”Tante boleh tanya sama Tami??” tanya Ibunya Miko tiba-tiba, yang membuatku agak kikuk

”Maaf Tante, Kalu boleh tahu, Tante mau tanya apa?” jawabku mencoba untuk tidak kikuk

”Tante hanya ingin tahu, Miko kalau di sekolah bandel nggak sih?” Tanya Ibunya Miko, yang membuat aku semakin kikuk

”Hmm… setahu Tami sih Miko sama seperti anak laki-laki yang lainnya… Nggak ada yang aneh-aneh kok Tan..” jawabku se-netral mungkin

”Kamu yakin Tam?” tanya Ibunya Miko lagi

”Sepengetahuan Tami seperti itu Tan, seandainya bandel pun masih wajar-wajar aja kok Tan” jawabku

”Iya ya.. Terimakasih ya Tam sudah mau jawab pertanyaan Tante” ujar Ibunya Miko

”Ohh iya sama-sama Tante… Assalamualaikum” ujarku menyudahi percakapan kami dan kemudian menutup telepon tersebut.

***

Beberapa hari setelahnya di kelas..

Semua mata memandang tak suka padaku ketika aku memasuki ruang kelas. Entah kenapa aku merasakan semua orang di kelasku seperti membenciku. Dan hingga jam pelajaran di mulai pun tak ada yang membalas sapaan atau senyum terhadapku, termasuk teman sebangku ku, Lena. Mereka semua seperti sedang mengucilkan aku, beberapa ada yang berbisik-bisik sambil sesekali melihat ke arahku. Sangat tidak nyaman ada di posisi terkucilkan seperti ini tanpa tahu apa penyebabnya.

Dalam hati aku bertanya-tanya ”Apa aku punya salah sama mereka semua, hingga mereka bersikap seperti ini padaku??”

Dengan memberanikan diri, aku bertanya pada Lena yang sebenarnya sejak awal pun juga ’DIAM’ terhadapku…

”Len, ada apa sih?? Kok kayanya anak-anak sikapnya aneh ke gue?? Lu juga diemin gue gini siih.. Gue punya salah sama lu??” tanya ku berentet..

Yang ditanya hanya senyum datar dan berucap ”eh, nggak papa kok. Perasaan lu aja kali”

Dan aku pun terdiam lagi… bingung harus bersikap apa…

Ketika jam pelajaran berikutnya kosong, karena gurunya sedang berhalangan hadir dan anak-anak mulai berisik seperti biasanya… Tiba-tiba..

”Dis, ke tempatnya Riska yuu di belakang” ajak Lena tiba-tiba

”Ada apa Len??” tanya ku nggak ngerti dengan ajakan Lena yang tiba-tiba itu

”Ada yang mau kita tanyain sama lu… Yuk” ujar lena yang kemudian bangkit dan menarik tanganku menuju tempatnya Riska yang letaknya beberapa meja di belakang mejaku

”Hmm.. ada apa siih??” tanyaku agak bingung karena di situ ada Miko juga

”Ada yang mau kita tanyain Dis sama lu” Riska yang menjawab

”Tentang apa ya??” tanyaku masih bingung

”Sebelumnya kita mau minta maaf Dis kalo lu ngerasa nggak nyaman” ujar Riska lagi

”Ehh.. Nggak ngerti gue” ujarku lagi

”Kita cuma mau lu jujur, Dis” kali ini Lena yang bicara

”Jujur tentang apa ya??” tanyaku semakin nggak ngerti dengan arah pembicaraan mereka

”Kalo nggak salah, lu pernah cerita ke gue kalo lu pernah telepon ke rumahnya Miko tapi yang angkat nyokapnya Miko kan Dis??” tanya Riska

”Iya, gue emang pernah cerita sama lu, kenapa emangnya Ka?” tanya ku masih belum mengerti hubungannya apa dengan telepon waktu itu

”Yang lu ceritain ke gue waktu itu bener Dis??” tanya Riska lagi

”Udah deeh.. To the point aja… Gue nggak ngerti maksud lu nanya gini apa ya Ka??”

”Oke.. Jadi gini, belum lama ini Miko diomelin sama Nyokapnya.. Katanya siih ada cewek yang telepon ke rumah Miko dan bilang ke Nyokapnya Miko, kalo Miko tuh bandel di sekolah… Ya pokoknya jelek-jelekin Miko lah…” ujar Riska panjang ”.. dan itu cewek pake nama lu.. Disty” ujar Riska lagi..

Dan aku hanya bisa terdiam sambil memandangi Riska, Lena dan Miko satu persatu dengan air mata mengembang yang kemudian turun perlahan ke pipiku. Jangan tanyakan apa yang aku rasa saat itu. Sedih. Hancur. Kecewa. Marah. Kesal. Semuanya bercampur jadi satu… aaahhh… kok ada siih yang tega gitu sama gue….

”Dis… ” Riska mengguncang bahuku

”Heeh..” ujarku mencoba menenangkan diri

”Kita mau minta maaf Dis sama lu..” masih Riska yang berbicara

”Ka, kan gue udah cerita sama lu tentang pembicaraan gue dan Nyokapnya Miko di telepon waktu itu. Kok lu masih nggak percaya siih sama gue?” tanya ku ke Riska

”Dan lagi.. gue nggak pernah pake nama Disty kalo telepon ke rumah lu kan Ko..” kali ini aku memandang Miko yang sejak tadi diam ”Gue tuh selalu pake nama Tami… Lu tahu itu kan Ko??” tanya ku lagi dan masih memandang Miko untuk mendapat jawaban darinya

”Iya, Dis.. gue tahu. Makanya gue mau minta maaf sama lu..” ujar Miko

”Hehh… ” aku hanya bisa menghela nafas… ”Siapa siih yang tega ngelakuin ini sama gue??? Salah gue apa coba sama itu orang??” ujarku agak emosi

”Kita udah tahu orangnya kok Dis…” ujar Riska sambil memberi kode padaku untuk melihat ke arah belakang, tempat duduknya Seti

”Maksud lu???” ujarku tak percaya, masih memandang teman sekelas ku yang jaraknya dua bangku di belakang Riska yang sedang asik mengerjakan tugas dari guru piket

”Iya Dis, Seti yang ngelakuin ini semua…” ujar Riska ”Dia yang telepon pake nama lu” lanjut Riska lagi

”Kok bisa??” tanya ku heran ”Maksud gue,, salah gue apa gitu sama dia??” lanjutku

”Seti suka sama Miko, Dis…” kali ini Lena yang bicara ”Riska juga pernah di giniin sama Seti” lanjut Lena

”Heeh.. bukannya lu masih sepupunya ya, Ka??” tanya ku ke Riska

”Yaa gitu dee,, masih sepupu jauh kok” jawab Riska

”Dia nggak suka ada cewe yang deket sama Miko,, jadi ya gini deeh..” ujar Lena

”Ampe segitunya?? Kenapa nggak bilang aja sii sama gue? Kenapa musti fitnah gue kayak gini??” tanyaku lagi, karena masih shock mendengar ini semua..

”Ya, gue juga nggak tau Dis” Riska yang berbicara…

”Maafin kita ya Dis..” ujar Lena

”Terus, itu anak-anak yang laen kenapa juga diemin gue?” tanyaku

”Ya.. semuanya udah tahu tentang telepon itu Dis..” Lena yang bicara ”Tapi, sebenernya mereka juga nggak percaya Dis” lanjutnya

”Dan sekarang mereka udah tahu yang sebenarnya kok Dis” Riska melanjutkan

Aku melihat sekeliling kearah teman-teman yang lainnya.. Beberapa ada yang menghampiriku untuk minta maaf dan beberapa hanya tersenyum padaku dari jauh…

Setelah kejadian itu hubunganku dengan Miko semakin jauh. Yaa, seperti Rio yang selalu menjauhiku, Miko pun bersikap sama. Namun, terkadang Miko masih mau bertegursapa denganku. Hal ini terus berlanjut hingga kelulusan SMP.

Miko memilih SMA yang berbeda denganku, jadi aku tak harus mengalami hal serupa di SMA nanti. Namun, aku terpaksa memilih SMA yang sama dengan Rio. Hal ini disebabkan nilai akhirku (NEM) sama dengan Rio, hanya beda dua angka dibelakang koma. Memang sudah menjadi kebiasaan di SMPku yang hampir setengah dari jumlah muridnya pasti masuk di SMA Favorit di Jakarta Selatan ini, seakan hanya pindah gedung sekolah saja.

Selama SMA, hanya satu tahun aku sekelas lagi dengan Rio. Yaaa, aku sekelas lagi dengan Rio di kelas 2. Dan sikapnya Rio masih sama seperti dulu, masih menghindariku, masih dingin. Aku tak tahu lagi harus bersikap bagaimana terhadap Rio, hingga akhirnya aku pasrah dan aku memutuskan untuk pindah sekolah. Aku ingin melupakan Rio.

Jujur, aku semakin tersiksa setiap kali aku melihat Rio dengan santainya mengobrol dengan murid-murid lain di kelasku, namun canggung dan seakan menghindar terhadapku. Yaa, aku masih sayang Rio. Walaupun sikap Rio masih tetap ’Dingin’ terhadapku. Dan aku berharap, dengan pindah sekolah ini aku bisa keluar dari bayang-bayang Rio dan semua kenanganku tentang Rio.

Setahun berlalu sejak kepindahanku dari SMA itu, kini aku sudah menginjak masa-masa kuliah, menjadi mahasiswa. Dan aku juga sudah memiliki seseorang yang sejauh ini mampu mengalihkanku akan sosok Rio. Hingga suatu hari, seorang teman membawakan sebuah majalah remaja yang di dalamnya terdapat artikel tentang cinta dan kasih sayang, satu tulisan yang mampu membuatku teringat lagi tentang Rio.

KENAPA??

Kenapa kita harus menutup mata ketika kita tidur…??? Ketika kita menangis…??? Ketika kita membayangkan..??

Ini karena hal yang indah di Dunia yang tak terlihat Yaitu… CINTA

Ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya sejalan dengan kita,, yang membuat kita bergabung dengannya dan jatuh kedalam suatu keanehan serupa yang dinamakan CINTA

Ada hal yang tidak ingin kita lepaskan,, Seseorang yang tidak ingin kita lepaskan,, Seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan… Tapi… Melepaskan bukan akhir dari dunia.. Melainkan awal dari kehidupan baru..

KEBAHAGIAAN…

Ada untuk mereka yang menangis…

Mereka yang tersakiti…

Mereka yang telah dan tengah mencari…

Serta mereka yang telah mencoba…

Hanya orang-orang seperti mereka yang menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka..

CINTA YANG SEBENARNYA….

Adalah… Ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya…

Adalah… Ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih setia menunggu…

Adalah… Ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum seraya berkata “Aku turut berbahagia”

Cinta sejati akan mengerti ketika kau berkata… “Aku lupa”

Menunggu selamanya ketika kau berkata… “Tinggalkan aku sendiri”

Membuka pintu, meski dia belum mengetuk dan berkata.. “Bolehkah saya masuk”

Dan… Mencintai juga bukanlah untuk bagaimana kamu melupakan dia, bila ia berbuat salah

Tetapi bagaimana kamu memaafkannya…

Dalam cinta kita sangat jarang peduli.. Tetapi ketika cinta itu tulus, meski kau acuhkan.. Cinta tetap Mulia dan harusnya bahagia.. Karena kamu/hatimu dapat mencintai orang yang dicinta.

Mungkin akan tiba saatnya dimana kamu akan berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang itu berhenti untuk mencintai kamu.. Melainkan karena kamu menyadari bahwa orang itu akan lebih bahagia apabila kita melepasnya..

Namun bila kau benar-benar mencintai seseorang, jangan melepaskannya bila dia tidak membalasmu. Barangkali dia tengah ragu dan mencari…

Kadang kala.. orang yang paling mencintaimu adalah orang yang tidak pernah menyatakan cintanya padamu. Karena dia takut kau berpaling darinya dan member jarak.. Bila suatu saat dia pergi, kau akan menyadari dia adalah cinta yang tak kau sadari…

MAKA…

Mengapa tidak kau ungkapkan cintamu bila kau memang mencintainya???

Meskipun kau tidak tahu apakah cinta itu ada juga padanya…

Air mataku meleleh saat membaca tulisan tersebut. Dan entah kenapa dengan spontan kusalin tulisan itu dan mengirimkannya melalui pesan di salah satu akun media sosial milik Rio. Tanpa berharap ada balasan dari Rio.

Seminggu kemudian, ternyata Rio membalas pesanku dengan sebuah puisi,

CINTA??

terkadang kita senang dibuatnya.. terkadang kita sedih dibuatnya..

terkadang kita bingung dibuatnya.. bahkan terkadang kita pun takut dibuatnya..

ya.. itulah CINTA..

tapi apa ketika orang yang kita cinta ternyata tak punya perasaan yang sama untuk kita, apa kita bisa memaksanya?..

tentu semua orang akan menjawab hal yg sama.. TIDAK..

ya itulah yang akan selalu terdengar jika kita menanyakan pertanyaan tersebut..

akupun akan menjawab demikian..

meskipun terkadang akupun ingin sekali mengharap.. meminta.. bahkan memaksa orang yang sangat kucintai untuk membalas cintaku..

dan walaupun aku tau itu salah… aku tetap melakukannya..

mungkin orang lainpun demikian..

KENAPA?

pertanyaan itu seakan gak pernah terjawab..

 tapi ada seseorang yang menyadarkanku..

bagaimana jika aku ada di posisi orang itu?

orang yang diminta, diharap untuk mencintai seseorang

seseorang yang tidak dicintainya?

apa yang aku rasakan?

TEMAN?

apa buruknya menjadi seorang teman?

bahkan teman terkadang lebih baik..

kita tidak perlu merasakan yang namanya putus, sakit hati..

kita pun tidak perlu takut dia tidak membalas cinta kita..

karena cinta seorang teman tidak perlu dipaksa.. cinta itu akan selalu ada..

bahkan kalau aku disuruh memilih sahabat atau pacar?

tanpa ragu aku akan menjawab sahabat..

kenapa?

karena sahabat adalah orang yang paling mengerti kita..

dan akan selalu mengerti qta..

dan itulah yang gw rasakan.. gw harap lo ngerti..

Dan aku hanya bisa tertawa sampai menangis setelah membaca balasan dari Rio ini. Teringat kembali kenangan masa lalu itu, merasakan betapa bodohnya sikap ku dulu. Kemudian akupun membalasnya,

“ampuuun deeh Rio.. kenapa ga dari dulu aja siih lu bilang gtu?? Kan gw ga harus penasaran mampus gini… hahahaha…”

Setelah semua pernyataan tersebut, hubunganku dengan Rio memang membaik. Kami bertukar nomer handphone, saling ber-sms-an nostalgia.

Suatu hari aku bertanya pada Rio melalui sms

Me: eh Yo, sebenernya gue masih penasaran deeh kenapa dulu lu itu langsung menghindar dari gw?

Rio: haha, masih aja lu.. yaa namanya jg anak kecil Dis, kaget lah gue pas baca surat lu itu. Bingung mesti gmn gue. Yaa gtu deh jdnya. Maaf yaa

Me: ooh, ok ok .. dah lewat lama juga siih..hehe

Rio: btw, pacar lu sekarang siapa?

Me: hmm.. blom ada niih, cariin donk.. hihi.. lu mah enak udah ada pasangannya ..

Rio: haha… kyanya cowok di Jakarta msh byk deh Dis.. gue doain cepet dapet dehh. Nanti klo nikah jgn lupa undang2 gue yaa

Me: ok ok.. aminn.. aminn.. tengkyu yaa.. oiya, take care ya yoo di sana.. hihi byee..

Yaa, Rio saat ini sudah bahagia bersama keluarga barunya dan menetap di luar pulau Jawa. Sekarang giliran aku yang harus mencari kebahagiaanku sendiri.

Kamu hanya masa lalu ku Yo..  

********************************************************************************

(edit : 11 Januari 2013)

tulisan ini terpilih dalam projectnya NBC Bekasi Lots Of Love! (#LOL !) yang terbit di nulisbuku.com

tulisan kedua gw yang terbit setelah #DearMama…  yeaay..

 

Catatan Dari Masa Lalu

2003-2004

AKU hanyalah seorang anak manusia yang lebih sering melakukan kesalahan di setiap perbuatanku. Tapi, kerap kali aku memberikan kebanggaan pada sekitarku.

Walaupun pernah satu waktu aku mengecewakan sekumpulan manusia yang aku sebut KELUARGA KU. Kekecewaan yang teramat dalam bagiku dan keluargaku, sebagian dari keluargaku berbesar hati memaafkanku dan menganggap KEKECEWAAN ITU sebuah musibah, teguran dari Sang Pencipta. Namun, ada sebagian kecil yang (mungkin) belum bisa menerima “musibah” tersebut. Walaupun hampir tidak pernah kami membahasnya, entah kenapa aku masih memiliki rasa bersalah yang selalu membayangi hari-hariku. Entah kenapa aku selalu merasakan sorot mata tajam menghujamku, pandangan benci banyak tertuju padaku. Tapi ternyata (dan aku rasa) itu semua hanya ketakutanku akan trauma masa lalu.

Aku akui hingga saat ini pun ketakutan itu masih menghantuiku. Namun aku mampu mengatasi “phobia” ku itu. Setelah aku menemukan SOMEONE yang bersedia mendukungku, mau menerima segala kelebihan bahkan kekuranganku. Seorang pria yang mau mendengarkan segala keluh kesahku dan mampu mengangkat keberanianku. Membantuku mengatasi ketakutanku, menyadarkan aku dari lamunan tentang masa lalu yang kelam. Masa lalu yang sebaiknya tidak dibahas lagi…

Semua berubah setelah aku menemukan yang aku sebut KASIH SAYANG aku memang mendapatkan ‘rasa itu’ dari keluargaku. Tapi, ternyata aku membutuhkan rasa itu selain dari keluarga. Dan aku mendapatkannya!!

Awalnya seorang sahabat memberikan “rasanya” padaku. Tak berapa lama, seorang sahabat lama memberikan kasih sayangnya padaku. Dua orang sahabat (yang satu pria, satunya lagi wanita) yang aku sayangi.

Dan sekarang, rasa sayangku harus ku bagi lagi untuk pria yang mampu merubah aku. Seorang pria yang juga memberikan kasih sayangnya padaku. Bukan sebagai sahabat, melainkan seseorang yang mampu menarik simpatiku, menanamkan rasa sayang dan ingin memiliki, bahkan rasa takut kehilangan. Seseorang yang mampu membangkitkan semangatku untuk terus berjuang menjalani dan mencapai mimpi-mimpiku, mengingatkanku agar tetap tegar menghadapi masalah yang tak pernah berhenti mendatangi hidup dan mimpiku. Seseorang yang membuatku kagum akan dirinya. Seseorang yang mengenalkan padaku arti CINTA, SAYANG dan MEMILIKI yang sebenarnya. Inikah yang disebut orang “jatuh cinta”?? entah .. yang aku tahu, aku sangat menyayanginya dan aku takut… sangat takut kehilangan dia, orang yang aku sayang.

DIA juga hanya seorang anak manusia, namun aku menyebutnya ISTIMEWA. Dia mempunyai kelebihan yang sangat jarang dimiliki anak-anak sebayanya. Tapi bukan itu yang membuatku tertarik padanya.. bukan kelebihannya. Yang membuatku tertarik adalah… sifatnya… humoris, siapapun yang ada di dekatnya pasti tertawa, sedikitnya tersenyum mendengar jokes yang (dulu) lebih sering agak ‘menjurus’.

DIA itu hampir sama denganku.. sifatnya.. masa lalunya (sama-sama buruk dan sebaiknya tidak di ingat-ingat lagi). Menghadapi pria ini, sama halnya aku menghadapi diriku sendiri. Susah loh!! Tapi, dia mampu membuatku bangga, kagum akan dirinya. Dia begitu tegar menghadapi masalah yang datang, walaupun sesekali menghindar dari masalah tersebut. Aku sadar, dia memang berubah. Dia juga mampu mengubah hidupku.. pandanganku.. (yaah, aku memang tidak mau mengakui perubahan ini, bahkan aku tutupi).

Dia yang membantuku melupakan seseorang yang sangat tidak mungkin aku dapatkan. Dia juga yang menemaniku melewati hari-hariku yang tidak pernah lepas dari masalah. Dia menghibur dan menenangkanku disaat aku sedih, gelisah dan panik. Dia yang selalu mengingatkan aku untuk selalu tersenyum. Dia juga yang selalu membuatku cemburu, BT dan kadang kesal. Tapi, dia juga yang selalu hadir di mimpiku, khayal ku. Dia yang selalu membuatku rindu. Rindu suaranya.. tawanya.. senyumnya.. tatapannya.. paniknya.. mimik mukanya kalau sedang marah, panik, BT dan jeles.

I REALLY LOVES HIM… MISS HIM!!

Dia membuatku ketergantungan akan jokesnya.. humornya.. ataupun saat dia membelai rambutku. Ada sesuatu hal (yang aku sendiri tidak tahu itu apa) yang “Istimewa” bahkan ajaib binti aneh, I can’t say anything. Hanya satu kata AJAIB!! Dia memang ajaib dan istimewa untukku. Aku merasa bersyukur mengenalnya, I FEEL SO LUCKY!! I’m a lucky GIRL!! Dia yang membuatku merasa “Lucky Girl”

IT’S MY FIRST TIME.. ini pertama kalinya aku merasa beruntung. DIA… orang yang aku sayang, Dia yang membuat aku merasa sangat beruntung, karena masih di beri kesempatan untuk menyayangi DIA.

Mungkin ‘musibah’ itu salah satu tanda bahwa aku harus melupakan FIRST LOVEku dan membuka pintu hatiku untuk yang lain. Saat ini.. aku merasa bahagia (padahal sering BT-BTan). Aku benar-benar HAPPY..

Aku hanya bisa berharap kebahagiaan ini akan berlangsung lama. Aku sudah terlanjur sangat sayang padanya. AKU PERCAYA, Dia tidak pernah berniat untuk mengecewakan aku. PERCAYA, JUJUR, TERBUKA. Hanya tiga hal itu COMMITMENT yang aku tanamkan dalam hubungan ini.

THANK YOU FOR LOVING ME..

 

NB: Untuk seseorang di masa laluku.. Terima kasih untuk segala Cinta dan Kasih sayang yang kau berikan dulu.. Maaf jika ini tak berakhir dengan Indah..